Tadi malam Cc mendapat pelajaran yang berharga mengenai nilai mempertahankan sebuah pernikahan atau hubungan dari pengalaman seorang teman. Ada ketakutan tersendiri dalam diri Cc ketika diminta untuk jadi penengah dalam permasalahan mereka. Takut andaikata perkataan atau apa yang Cc pikirkan justru tidak bisa membawa mereka dalam suatu perdamaian yang diinginkan. Sempat terpikir saat itu andaikata Ai ada disini, apa yang akan Ai lakukan. Cc hanya berdoa dalam hati “Ya Tuhan jadikan lah aku pembawa damai, bimbinglah aku agar bisa membantu mereka dengan membagi pemikiran dan tetap menjadi diriku sendiri” Mereka berdua sangat berarti bagi Cc dan Ai. Abang adalah rekan sekerja Ai tapi beda divisi, dan mereka sudah saling mengenal jauh sebelum Cc masuk ke dalam kehidupan Ai.
Pernikahan sahabat Cc dan Ai, sebut saja Abang (Cc memanggilnya seperti itu karena mengingat usianya yang jauh diatas Ai) dan pasangannya Adek diambang kehancuran. Perbedaan usia mereka sangat jauh, Abang yang berusia akhir kepala 3 sedangkan Adek baru menginjak usia 22tahun. Abang karena tuntutan pekerjaan harus sering keluar kota barang 5-10hari atau kurang. Sementara Adek hanya di rumah mengurus rumah tangga tanpa ada kesibukan lain. Awal pernikahan, mereka sangat mesra, Adek dengan sangat pengertian, mencurahkan 100% perhatiannya untuk Abang. Seluruh dunia Adek hanya ada Abang dan Abang saja.
Pernikahan mereka hampir menginjak usia 2tahun. Seiring waktu berjalan, Abang semakin dipercaya oleh tempatnya bekerja untuk menangani kegiatan lapangan di luar kota. Waktunya semakin lama semakin berkurang untuk berada di rumah. Adek yang tidak memiliki kegiatan lain ketika Abang tidak ada di rumah perlahan-lahan didera rasa bosan dan suntuk. Adek bukan tipe orang yang sering berkumpul dan bersosialisasi dengan tetangga. Sehingga waktu luangnya hanya dihabiskan di rumah atau bertandang ke rumah Cc dan Ai.
Karena rasa suntuk itu, Adek protes setiap kali Abang harus bertugas di luar kota. Bukannya mengungkapkan rasa suntuk itu, alih-alih Adek hanya merengut, bersungut-sungut dan mengambil aksi ngambek. Abang menjadi serba salah ketika memberitahukan jadwal kerja keluar kotanya kepada Adek. Abang berusaha memberitahu jauh-jauh hari, Adek ngambek. Abang memberitahu Adek 2hari menjelang tugas keluar kotanya, Adek juga ngambek. Bahkan ketika Abang menuliskan semua jadwal kerja keluar kotanya di kalender rumah mereka, Adek makin meradang. Tapi semua rasa suntuk itu tidak Adek ungkapkan dengan jelas, hanya bersungut-sungut dan berulang kali mengucapkan kata “Adek kesepian, Adek bosan ditinggal terus-terusan”
Setiap aksi ngambek karena pemberitahuan jadwal kerja keluar kota itu, Abang selalu disambut dengan sikap diam, terkadang dengan marah-marah ketika pulang ke rumah dari kantor. Abang yang sudah letih karena seharian bekerja malah dibombardir dengan kemarahan. Bukan ketenangan yang di dapat, malah semakin semerawut dan makin panas. Abang mencoba mengerti sikap Adek. Kami (Cc dan Ai) berulang kali meminta Abang untuk bersabar dan mencoba mengerti Adek yang kesepian, mengingat usianya yang masih belia dengan rasa egois dan kekanak-kanakan yang lebih dominan. Kami mengusulkan supaya Adek dicarikan kegiatan, kursus atau buka usaha warung kecil-kecilan. Bukannya tidak pernah usul itu ditawarkan ke Adek, tapi Adek yang menyambut negatif usulan Abang. Ketika ditawarkan untuk kursus, Adek malah beranggapan “Adek disuruh kursus supaya ada kesibukan sehingga Abang bisa dengan bebas dan tanpa rasa bersalah pergi-pergi terus”
Baru belakangan ini saja ketika Cc mengungkapkan keinginan untuk menimba ilmu dan menambah keahlian lain, Adek bisa terbuka matanya. Cc bercerita ingin kursus bahasa asing lain selain Bahasa Inggris atau Kursus Managemen untuk menambah pengetahuan dan referensi kerja supaya bisa lebih dihargai orang ketika bekerja. Adek menjadi terpacu untuk belajar lagi, dan mulai mencari-cari informasi mengenai kursus computer atau bahasa Inggris. Akhirnya Adek memutuskan untuk ikut kursus bahasa Inggris di sebuah Lembaga Bahasa Inggris di dekat rumah.
Selesaikah masalah “Kesepian” Adek??? Ternyata tidak. Adek masih bersungut-sungut ketika Abang memberitahu akan bertugas keluar kota. Yang lebih parah lagi, Adek mulai mengorek masa lalu Abang. Foto Abang dengan kekasih lamanya dijadikan alasan mereka bertengkar. Adek cemburu menemukan foto-foto Abang di dalam folder laptopnya. Loh kok bisa cemburu sih Dek, kan Abang sudah berkomitmen dan serius menjalankan hubungan ini dengan Adek. Kenapa bisa muncul issue orang ketiga disini?? Itulah Adek…… Hingga malam ini puncak pertengkaran mereka. Abang marah karena Adek tidak menghargai privacy nya dengan membongkar folder-folder pribadi laptop kantornya. Adek cemburu dan meradang karena melihat foto tersebut disalah satu folder di laptopnya Abang.
Karena pertengkaran yang tidak ada habisnya, Abang merasa letih luar biasa baik secara emosi, psikis dan fisik. Abang bertanya kepada Adek “Sekarang Adek maunya apa? Adek sekarang berubah, tidak seperti dulu lagi. Kok Adek sepertinya merasa disakiti, tersiksa dalam menjalankan hubungan dengan Abang. Apa Adek mau pisah dari Abang??”
Ketika Cc masih di kereta dalam perjalanan pulang, Adek menelpon Cc dan meminta CC ke rumah mereka. Cc sudah merasa ada yang tidak beres karena Abang sempat curhat siangnya lewat chat di YM. Abang menceritakan mengenai kecemburuan Adek yang mulai mengada-ada menganggkat issue orang ketiga dalam hubungan mereka. Cc langsung mengiyakan akan mampir ke rumah mereka. Setelah tidak beberapa lama Adek menelpon, ada sms dari Adek yang mengatakan “Adek tau kalau Adek salah dengan tidak menghormati privacy Abang. Adek salah Kak. Tolong Adek, Adek cinta sekali dengan Abang, Adek sayang Abang, Adek ndak mau pisah dengan Abang. Tolong jadi penengah dan mencarikan solusi bagi Kami Kak……..”
Wah………. Serius sekali permasalahan ini sampai ada kata “Berpisah”. Begitu Cc menginjakkan kaki di stasiun Lenteng Agung, Cc langsung mencari ojek supaya cepat sampai di rumah mereka. Ketika Cc sampai disana, Abang sedang duduk terpekur di beranda depan sambil mata menerawang jauh, matanya sembab, bahu nya terkulai lemas. Sementara Adek duduk di lantai dapur menangis sesegukan. Cc pamit ke kamar mandi untuk membasuh muka dan cuci kaki sambil dalam hati berdoa, mohon bimbingan Tuhan agar bisa membantu mereka, kemudian Cc duduk di ruang tengah. Satu persatu mereka menyusul Cc ke ruang tengah. Cc meminta Adek untuk mengutarakan semuanya terlebih dahulu, karena Adek yang meminta Cc untuk datang. Kemudian baru meminta Abang untuk mengeluarkan semua uneg-unegnya. Cc berbagi pengalaman dan menceritakan apa yang Cc rasakan ketika ditinggal Ai bertugas keluar kota, bagaimana Cc menyikapi jarak yang terentang, bagaimana keterbukaan Cc dan Ai, semua Cc bagi dengan Abang dan Adek untuk bahan pertimbangan mereka. Cc dan Adek sama-sama sering ditinggalkan pasangan bertugas keluar kota, tapi yang berbeda adalah bagaimana menyikapinya. Cc tanya masing-masing kepada mereka “Sekarang mau nya apa dan bagaimana”
Abang mengembalikan semua keputusan kepada Adek. Abang hanya minta kepada Adek untuk jadi seperti dulu lagi, yang pengertian, yang mendukung dan menerima Abang secara keseluruhan. Abang mengingatkan kembali bahwa ada 3prioritas dalam hidup Abang: Pekerjaan, Keluarga dan Adek. Semua tidak ada urutan mana yang paling penting, semuanya saling terkait. Abang tidak mungkin berhenti bekerja karena dia tulang punggung keluarganya, bahkan setelah mereka menikah sekalipun. Bukannya Abang tidak mau mencari pekerjaan lain yang tidak mengharuskannya keluar kota. Abang sudah berusaha, tapi mau apalagi rejeki dari Tuhan sudah tertuliskan seperti itu. Adek harus bisa menerima dan mengerti itu. Kalau Adek bisa menerima Abang apa adanya dan mau mengerti, semua permasalahan selesai.
Cc meminta waktu untuk berdua saja dengan Adek. Semua permasalah dibahas berdua dari sisi wanita. Cc ceritakan lebih detail bagaimana dan apa yang Cc rasakan ketika ditinggal Ai keluar kota. Bagaimana menyikapi rasa sepi dan suntuk, bagaimana mengatasi emosi dan rasa yang berkecamuk padahal Ai sedang jauh disana, bagaimana mengatasi ke-egoisan diri dan lebih mengedepankan semua demi “Kami” bukan demi “Aku”, apa arti komitmen-pernikahan ketika dalam pernikahan bukan lagi 2orang tapi sudah menjadi satu kesatuan Abang-Adek, CC-Ai satu hati, satu rasa, sakit sama dirasa, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul, senang dan sedih sama dirasa. Kemudian membahas bahwa kesempatan untuk belajar lagi itu sangat langka, Adek harus bersyukur dan melihat sisi positif nya, dengan begitu Adek makin terampil dan mengatasi rasa sepi. Bukannya justru supaya Abang bebas keluar kota. Cc juga membahas mengenai ruang pribadi masing-masing yang harus dihormati. Dan adek juga bercerita diawal Abang dan dia berhubungan, Abang sudah menceritakan semua tentang dirinya, tentang keluarga dan tentang mantan-mantan kekasih Abang. Tapi Adek tidak ditunjukkan foto-foto Abang dengan mantan kekasihnya Abang sehingga muncul kecemburuan yang tidak beralasan. Adek merasa sangat bersalah sudah melanggar privacy Abang dan takut Abang marah dan membenci dirinya. Cc memberi pengertian sedemikian rupa ke Adek, memberikan pandangan-pandangan dan pendapat dan akhirnya menanyakan apa yang Adek inginkan.
Selesai dari sisi Adek, Cc menemui Abang dan mengungkapkan semuanya.
Dan kembali bertanya “Maunya apa dan bagaimana, apakah permasalah Adek yang sudah melanggar privacy itu adalah issue utama pertengkaran atau bagaimana” Setelah mendengar dari dua sisi, Cc memanggil Adek dan berusaha memaparkan semuanya tidak kurang satu apapun. Setelah semua jelas……. Adek berusaha dan berniat kembali seperti dahulu dan tidak mau berpisah dengan Abang. Mendengar itu Abang sangat berterima kasih sekali dengan usaha Adek. Lega rasanya hati Cc melihat kesalah pahaman dan permasalahan Abang dan Adek bisa terpecahkan.
Malam yang sangat panjang…….. Penuh ketegangan dan Air mata……… Cc bersyukur bahwa semuanya bisa berjalan dengan baik, tidak ada perpecahan. Sekarang tinggal bagaimana usaha Adek menjalankan janji dan niat yang diucapkan kepada Abang dan Cc sebagai saksi malam itu.
Komitmen= Cinta+kesetiaan+pengertian. Rumus itu masih dan akan selalu Cc ingat selama-lamanya. Tentang bagaimana Cinta, Kesetiaan dan Pengertian bisa dijaga, kuncinya adalah KOMUNIKASI. Jangan sampai Komunikasi itu terputus, atau hanya satu arah. Karena itu adalah hal yang vital sekali dalam berumah tangga atau dalam menjalin hubungan. Cc mengambil pelajaran yang sangat-sangat berharga dari pengalaman Abang dan Adek.
Cc akan terus berusaha menjadikan rumus dan kunci itu sebagai pegangan menjalankan kehidupan bersama dengan Ai, orang yang Cc cintai
Jakarta, Rabu-16 Juni’09: 05.00am